SURABAYA – Perkembangan ekonomi digital membuka peluang bagi mahasiswa untuk membangun bisnis tanpa harus memiliki toko fisik atau modal operasional yang besar. Salah satu model bisnis yang semakin diminati adalah penjualan produk digital, mulai dari e-book, modul pembelajaran, hingga kumpulan materi praktis yang dapat diakses secara online.
Peluang tersebut dimanfaatkan oleh Reza Nafi Rizqi Musyaffa, yang akrab disapa Afa, mahasiswa S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga (UNAIR). Melalui penjualan produk digital di platform Lynk.id, Afa membangun sumber pendapatan dari produk edukasi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan mahasiswa.
Bisnis tersebut menjadi bagian dari perjalanannya sebagai mahasiswa sekaligus creatorpreneur, yaitu individu yang menggabungkan aktivitas pembuatan konten dengan pengembangan produk dan bisnis digital. Dari aktivitas tersebut, Afa mengembangkan penjualan produk digital dengan pendapatan yang mencapai dua digit juta rupiah per bulan.
Mengembangkan Produk Digital dari Kebutuhan Mahasiswa
Afa melihat bahwa banyak mahasiswa membutuhkan sumber belajar praktis untuk mendukung pengembangan diri, mulai dari persiapan beasiswa, kompetisi, organisasi, hingga program pertukaran pelajar. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu dasar dalam mengembangkan produk digital yang relevan dengan keseharian mahasiswa.

Alih-alih hanya membagikan informasi melalui media sosial, ia mengemas sebagian pengetahuan tersebut menjadi produk yang lebih terstruktur. Bentuknya antara lain e-book, modul persiapan seleksi, kumpulan pertanyaan wawancara, serta materi pendukung pengembangan kapasitas mahasiswa.
Hingga saat ini, Afa telah mengembangkan lebih dari 30 e-book dan modul edukasi. Produk-produk tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa memperoleh referensi yang lebih sistematis, terutama ketika mempersiapkan seleksi beasiswa, wawancara, kompetisi, dan berbagai kesempatan pengembangan diri.
Menurutnya, produk digital memiliki karakteristik yang menarik karena dapat dikembangkan satu kali, kemudian dipasarkan dan diakses oleh pembeli secara online. Meski demikian, proses pembuatannya tetap membutuhkan riset kebutuhan pasar, penyusunan materi, pengemasan produk, serta evaluasi berdasarkan respons konsumen.
Memanfaatkan Lynk.id untuk Menjual Produk Digital
Dalam menjalankan bisnisnya, Afa memanfaatkan Lynk.id sebagai salah satu platform untuk menampilkan dan menjual produk digital. Platform tersebut memudahkan calon pembeli menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka melalui tautan yang dapat dibagikan di media sosial.

Model penjualan ini juga memungkinkan Afa menghubungkan aktivitas pembuatan konten dengan proses pemasaran produk. Konten edukasi digunakan untuk menjangkau audiens, membangun kepercayaan, dan memberikan gambaran mengenai persoalan yang dapat dibantu melalui produk yang ditawarkan.
Strategi tersebut sejalan dengan perkembangan content commerce, ketika konten tidak hanya berfungsi sebagai media berbagi informasi, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan konsumen dalam menemukan dan membeli produk.
Bagi Afa, media sosial dan platform penjualan memiliki fungsi yang saling melengkapi. Konten membantu menjangkau audiens yang membutuhkan informasi, sedangkan halaman produk menjadi tempat calon pembeli mempelajari penawaran dan melakukan transaksi.
Pendapatan Dua Digit Juta Rupiah per Bulan sebagai Mahasiswa
Salah satu capaian dari perjalanan tersebut adalah kemampuan membangun pendapatan bulanan hingga dua digit juta rupiah melalui penjualan produk digital. Capaian ini menunjukkan bahwa bisnis berbasis pengetahuan dapat menjadi salah satu alternatif usaha bagi mahasiswa, selama produk yang ditawarkan memiliki nilai guna dan menjawab kebutuhan pasar.
Namun, pendapatan dari bisnis digital tidak hanya ditentukan oleh jumlah produk yang tersedia. Pemahaman terhadap target audiens, pemilihan topik, penentuan harga, kualitas materi, serta konsistensi pemasaran turut memengaruhi kinerja penjualan.
Afa juga perlu membagi perhatian antara pengembangan bisnis, aktivitas akademik, dan kegiatan lainnya. Pengelolaan waktu serta penyusunan prioritas menjadi bagian penting agar bisnis dapat terus berkembang tanpa mengabaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa.
Pengalaman ini memberikan ruang bagi Afa untuk mempelajari praktik pemasaran digital secara langsung, termasuk bagaimana memahami perilaku konsumen, menguji minat pasar terhadap suatu topik, dan mengubah kebutuhan audiens menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Menggabungkan Personal Branding dan Monetisasi Konten
Selain mengembangkan produk digital, Afa aktif membangun personal branding melalui akun Instagram @afa_rm. Kontennya berfokus pada kehidupan mahasiswa berprestasi, beasiswa, kompetisi, organisasi, kepemimpinan, pertukaran pelajar, dan pengembangan diri.
Dengan audiens media sosial yang telah mencapai lebih dari 13 ribu pengikut, Afa memiliki saluran untuk mendistribusikan informasi edukatif sekaligus memperkenalkan produk yang relevan dengan kebutuhan pengikutnya.
Meski begitu, membangun bisnis melalui konten bukan sekadar persoalan jumlah pengikut. Relevansi topik, kepercayaan audiens, konsistensi publikasi, dan kesesuaian antara konten dengan produk menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana personal branding dapat dikembangkan menjadi aset bisnis. Ketika konten memberikan manfaat secara konsisten, kreator memiliki peluang untuk membangun hubungan jangka panjang dengan audiens dan mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Menjadikan Bisnis Digital sebagai Ruang Belajar Kewirausahaan
Sebagai mahasiswa Manajemen FEB Universitas Airlangga, Afa memandang pengembangan produk digital sebagai ruang untuk menerapkan konsep bisnis secara langsung. Proses tersebut mencakup identifikasi kebutuhan pasar, pengembangan produk, strategi pemasaran, penetapan harga, hingga evaluasi penjualan.
Pengalaman membangun bisnis juga memperlihatkan bahwa memulai usaha tidak selalu harus diawali dengan produk berskala besar. Produk yang spesifik, memiliki target pasar yang jelas, dan memberikan manfaat nyata dapat menjadi titik awal untuk menguji peluang bisnis.
Ke depan, pengembangan produk digital dapat diarahkan pada peningkatan kualitas materi, perluasan kategori produk, serta penguatan sistem pemasaran. Dengan pendekatan yang terukur, bisnis digital berpotensi menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan sekaligus membangun sumber pendapatan sejak masa kuliah.
Perjalanan Afa menunjukkan salah satu bentuk pemanfaatan ekonomi digital oleh mahasiswa: mengubah pengetahuan menjadi produk, menggunakan konten sebagai sarana distribusi, dan memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.