KUALA LUMPUR – Di saat energi publik dan pemerintah masih berfokus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kabut asap yang masih terus berlangsung, sebuah ancaman krisis baru yang tak kalah mengkhawatirkan mulai membayangi kawasan Asia Tenggara. Kewaspadaan tingkat tinggi kini ditunjukkan oleh Thailand dan Malaysia, di mana Perdana Menteri kedua negara tersebut baru-baru ini mengumumkan kesiapan Emergency Pack (paket darurat) bagi warganya.
Pergeseran fokus mitigasi di negara tetangga ini memantik perhatian serius dari akademisi dan pakar komunikasi internasional, Dr. Daniel Susilo. Senior Lecturer di Taylor’s University Malaysia yang juga pernah menjadi Postdoctoral Fellow di Vrije Universiteit Amsterdam ini menegaskan, masyarakat Indonesia tidak boleh lengah. Meskipun penanganan karhutla masih menjadi prioritas harian, publik harus mulai membekali diri dengan survival kit untuk menghadapi krisis dimensi baru.
“Saat ini kita memang masih berhadapan dengan masalah asap. Namun di sisi lain, Malaysia saat ini sudah bersiap dan menjalankan Crisis Communication dengan sense kewaspadaan yang sangat tinggi pada ancaman cyber attack (serangan siber). Ini adalah ancaman nyata yang bisa melumpuhkan infrastruktur vital secara tiba-tiba,” papar Dr. Daniel Susilo di Kuala Lumpur.
Menurut Dr. Daniel, krisis di era modern kini datang berlapis. Ketika karhutla mengancam kesehatan pernapasan, serangan siber mengancam denyut nadi kehidupan masyarakat modern: listrik, telekomunikasi, dan jaringan internet. Berkaca dari langkah antisipatif Malaysia dan Thailand, ia mendesak warganet dan masyarakat Indonesia secara umum untuk segera bersiap di tingkat rumah tangga.
“Meskipun penanganan karhutla masih terus berlangsung dan menuntut perhatian kita, warganet Indonesia perlu juga bersiap menghadapi skenario krisis infrastruktur. Paling tidak, mulai sekarang setiap keluarga harus menyetok survival kit darurat. Siapkan makanan siap saji, persediaan air bersih, senter, powerbank dalam kondisi penuh, dan obat-obatan pribadi,” tegasnya.
Di tengah gempuran teknologi digital, Dr. Daniel memberikan satu penekanan khusus pada alat keselamatan yang sering dilupakan oleh masyarakat modern, yaitu radio transistor analog.
“Satu hal yang paling krusial di dalam survival kit tersebut adalah radio transistor berbasis baterai fisik. Jika skenario terburuk cyber attack terjadi dan jaringan internet serta listrik mati total, smartphone kita tidak akan berguna. Radio transistor ini akan menjadi satu-satunya alat penyelemat untuk menerima instruksi darurat dari pemerintah,” tambah ahli komunikasi strategis ini.