HARIANJABAR.NET – Di tengah kebiasaan belanja yang semakin bergeser ke platform digital, pasar tradisional di Kota Bandung masih punya tempat tersendiri bagi masyarakat. Bukan hanya karena barang yang dijual bisa dilihat dan dipilih langsung, tetapi juga karena ada pengalaman tawar-menawar serta suasana khas yang sulit ditemukan ketika berbelanja secara online.
Menariknya, sejumlah pasar di Bandung telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Beberapa di antaranya bahkan sudah ada sejak masa pemerintahan Hindia Belanda dan tetap menjadi pusat aktivitas perdagangan sampai sekarang.
Perubahan zaman membuat fungsi dan jenis barang yang dijual ikut berkembang. Ada pasar yang kini dikenal sebagai pusat tekstil, ada yang menjadi sentra grosir pakaian, sementara lainnya tetap mempertahankan karakter sebagai pasar kebutuhan sehari-hari.
Berikut lima pasar tua di Kota Bandung yang masih bertahan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga kini.
1. Pasar Baru Bandung
Pasar Baru Trade Center menjadi salah satu pasar paling dikenal di Kota Bandung. Sejarahnya bermula dari upaya menata pedagang setelah Pasar Ciguriang mengalami kebakaran dan kerusuhan pada 1842.
Pada 1884, lokasi Pasar Baru yang sekarang digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi pedagang yang sebelumnya berjualan di kawasan tersebut. Aktivitas perdagangan kemudian semakin tertata setelah pemerintah kolonial membangun bangunan pasar semipermanen pada 1906.
Pengembangan kawasan terus dilakukan. Pada periode 1924 hingga 1926, bangunan dan tata ruang pasar mengalami perubahan besar dari konstruksi sederhana menjadi kompleks pasar permanen yang lebih luas.
Perkembangan tersebut membuat Pasar Baru mendapat reputasi sebagai salah satu pasar yang paling bersih dan teratur pada masa Hindia Belanda. Pasar ini juga menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai latar belakang, termasuk masyarakat pribumi, Tionghoa, Arab, dan kelompok lainnya.
Barang yang dijual pun mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Jika dahulu Pasar Baru dikenal sebagai tempat mencari bahan pangan, rempah-rempah, dan berbagai kebutuhan rumah tangga, memasuki dekade 1970-an hingga 1990-an kawasan ini semakin kuat sebagai pusat perdagangan tekstil dan busana.
Kini, Pasar Baru lebih dikenal sebagai salah satu tujuan belanja fashion di Bandung. Pengunjung dapat menemukan pakaian, kain, busana muslim, perlengkapan ibadah, aksesori, kebutuhan menjahit hingga berbagai makanan dan oleh-oleh.
2. Pasar Kosambi
Pasar Kosambi berdiri pada 1915 dan sejak masa kolonial telah menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi di kawasan timur Bandung.
Pada awal keberadaannya, pasar ini memiliki karakter sebagai pasar tradisional sederhana. Aktivitas jual beli berlangsung di area yang masih didominasi bangunan kayu dan lapak sederhana. Nama Kosambi sendiri berkaitan dengan pohon kosambi yang dahulu menjadi salah satu ciri kawasan tersebut.
Letaknya yang strategis membuat Pasar Kosambi berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus tempat berkumpul masyarakat. Perkembangan kawasan di sekitarnya juga ikut memperkuat posisi pasar tersebut sebagai salah satu pusat ekonomi Bandung.
Perjalanan Pasar Kosambi tidak selalu mulus. Kebakaran besar pada 2019 menjadi salah satu peristiwa yang memengaruhi aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.
Namun, pasar ini kemudian mendapatkan wajah baru melalui hadirnya The Hallway Space pada 2020. Area tersebut menjadi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif, kafe, toko, dan berbagai usaha yang banyak menyasar anak muda.
Keberadaan ruang kreatif tersebut membuat Pasar Kosambi memiliki karakter yang cukup unik. Aktivitas pasar tradisional tetap berjalan, sementara di bagian lain muncul ekosistem usaha kreatif yang lebih modern.
Perpaduan tersebut membuat Pasar Kosambi tidak hanya menjadi tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari, tetapi juga salah satu kawasan yang memperlihatkan bagaimana pasar lama dapat beradaptasi dengan perubahan gaya hidup.
3. Pasar Andir
Pasar Andir berada di Jalan Waringin, kawasan Ciroyom, Kecamatan Andir. Pasar ini juga mulai berkembang pada 1915 dan menjadi bagian dari perkembangan kawasan perdagangan di sebelah barat Kota Bandung.
Nama Andir memiliki kaitan dengan sejarah kawasan di sekitarnya. Dahulu, wilayah tersebut merupakan area yang dihuni para pekerja pembangunan jalan yang berada di sekitar Grote Postweg atau Jalan Raya Pos, yang kini dikenal sebagai Jalan Sudirman.
Pasar Andir juga memiliki catatan sejarah yang cukup panjang. Pada masa pendudukan Jepang, kompleks pasar ini sempat dialihfungsikan sebagai lokasi penahanan tawanan perang. Mulai 1942, ratusan pria dewasa berkebangsaan Eropa pernah ditahan di kawasan tersebut sebelum sebagian dipindahkan ke lokasi lain.
Setelah masa pendudukan berakhir dan Indonesia memasuki periode kemerdekaan, kawasan Pasar Andir kembali menjalankan fungsi ekonominya.
Seiring perkembangan kota, karakter perdagangan di Pasar Andir juga berubah. Jika dahulu kebutuhan pokok dan bahan pangan menjadi barang utama, kini pasar tersebut lebih dikenal sebagai salah satu pusat grosir dan eceran pakaian di Bandung.
Sementara itu, kebutuhan pangan dan barang kebutuhan sehari-hari masih dapat ditemukan di bagian tertentu pasar serta area yang mengelilingi bangunan utama.
4. Pasar Sederhana
Pasar Sederhana berada di kawasan Sukajadi dan telah lama menjadi salah satu tempat belanja kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat Bandung bagian barat dan utara.
Pasar ini berkembang pesat sekitar dekade 1950-an hingga 1970-an, ketika permukiman di sekitar Jalan Jurang dan Jalan Pasirkaliki semakin ramai.
Kehadirannya tidak terlepas dari kebutuhan untuk menyebarkan pusat perdagangan agar tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota. Pasar Sederhana kemudian menjadi tempat masyarakat mendapatkan berbagai kebutuhan pokok tanpa harus pergi terlalu jauh.
Berbeda dengan pasar modern yang mengutamakan tampilan, Pasar Sederhana sejak awal lebih berorientasi pada fungsi. Suasananya identik dengan pasar basah yang menyediakan bahan makanan segar.
Sayuran, daging, ikan, bumbu dapur, dan berbagai bahan masakan dapat ditemukan di kawasan ini. Produk sayuran dari wilayah sekitar Bandung, termasuk kawasan Lembang, turut menjadi bagian dari aktivitas perdagangan.
Menariknya, keberadaan pasar juga ikut membentuk aktivitas kuliner di sekitarnya. Pada pagi hari, kawasan Pasar Sederhana dikenal sebagai salah satu tempat berburu sarapan dan jajanan tradisional.
Jadi, bagi masyarakat yang ingin merasakan suasana pasar tradisional Bandung sekaligus mencari makanan pagi, kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri.
5. Pasar Cihaurgeulis
Pasar Cihaurgeulis berada di kawasan Jalan Surapati, Bandung. Keberadaan pasar ini memiliki akar sejarah sejak masa kolonial dan berkembang seiring pertumbuhan permukiman di kawasan Cibeunying.
Nama Cihaurgeulis berasal dari bahasa Sunda. Kata “ci” berarti air, “haur” berarti bambu, sedangkan “geulis” berarti cantik. Nama tersebut berkaitan dengan gambaran lingkungan kawasan pada masa lalu yang memiliki aliran air serta pepohonan bambu.
Seperti pasar tradisional lainnya, lantai dasar Pasar Cihaurgeulis digunakan untuk perdagangan kebutuhan sehari-hari, terutama bahan makanan dan kebutuhan dapur.
Namun, pasar ini memiliki cerita menarik pada bagian lantai atasnya. Pada sekitar dekade 1980-an hingga 2000-an, kawasan tersebut dikenal sebagai tempat berburu buku murah dan majalah bekas.
Keberadaan bursa buku tersebut membuat Pasar Cihaurgeulis memiliki pelanggan dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bandung seperti ITB, Unpad, dan Itenas disebut menjadi bagian dari pelanggan yang kerap mencari buku dan bacaan dengan harga lebih terjangkau.
Seiring waktu, pasar ini mengalami beberapa kali penataan dan revitalisasi. Meski tampilan fisiknya berubah, aktivitas perdagangan tradisional tetap menjadi bagian penting dari kehidupan pasar.
Pasar Tua Bandung yang Beradaptasi dengan Zaman
Kelima pasar tersebut menunjukkan bahwa pasar tradisional tidak selalu identik dengan tempat perdagangan yang tertinggal oleh perkembangan zaman.
Pasar Baru bertransformasi menjadi pusat tekstil dan fashion, Pasar Kosambi menggabungkan aktivitas pasar dengan ruang ekonomi kreatif, sedangkan Pasar Andir berkembang menjadi kawasan grosir pakaian. Di sisi lain, Pasar Sederhana tetap kuat sebagai pusat kebutuhan pangan dan Pasar Cihaurgeulis mempertahankan aktivitas pasar sekaligus memiliki sejarah sebagai tempat berburu buku bekas.
Keberadaan pasar-pasar lama tersebut juga menjadi bagian dari identitas Kota Bandung. Di dalamnya bukan hanya terdapat aktivitas jual beli, tetapi juga cerita mengenai perubahan kota, perkembangan permukiman, hingga kehidupan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi wisatawan yang ingin melihat sisi lain Bandung, mengunjungi pasar-pasar lama tersebut bisa menjadi pilihan. Selain berburu barang dengan harga yang beragam, pengunjung dapat merasakan suasana perdagangan yang telah menjadi bagian dari kehidupan kota selama puluhan hingga lebih dari seratus tahun.